Selasa, 18 Desember 2012

tugas Konservasi tanah dan air (erosi percikan

LAPORAN KE-4
KONSERVASI TANAH DAN AIR
PENGUKURAN LAJU EROSI PERCIKAN


Oleh
Kelompok I

ARI TRIWIBOWO        201111068
SLAMET PRIYADI        201111008
PAULUS SUFYAN        201111062
RUDI HARIANTO        201111014











PROGRAM STUDI
BUDIDAYA PERKEBUNANAN KELAPA SAWIT
POLITEKNIK KELAPA SAWIT
CITRA WIDYA EDUKASI
2012

KATA PENGANTAR


    Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, berkat, dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan Laporan Pengukuran Laju Erosi Percikan tepat pada waktunya dan tanpa suatu halangan apapun.
    Tidak lupa penulis banyak mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini, antara lain :
1.    Orang tua yang selalu memberikan dukungan kepada penulis, baik moral maupun material serta doa yang tidak pernah ada hentinya.
2.    Bapak Aang Kuvaini, S.Hut, M.Si., selaku dosen Konservasi Tanah dan Air yang selalu memberikan materi dan membimbing penulis dalam jalannya praktikum.
3.    Teman-teman yang telah bekerja sama dengan baik.
4.    Semua pihak yang telah membantu penulis menyelesaikan laporan ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, apabila dalam penyusunan laporan ini terdapat kesalahan mohon dimaklumi. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun agar dalam penyusunan laporan selanjutnya bisa lebih baik.




Bekasi,   November 2012




                                                                                  Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL    ………………………………………………………….    i
KATA PENGANTAR    ………………………………………………………    i
DAFTAR ISI    ………………………………………………………………..    ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang    ...............................................................................     1
1.2 Tujuan    ...........................................................................................     1
1.3 Manfaat    ...........................................................................................     1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Erosi    …………….......................................................................     2
2.2. Bentuk-Bentuk Erosi    ……...........................................................     2
2.3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Erosi    ……………………….     3
BAB III METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat    ……....................................................................     4
3.2 Alat dan Bahan    ................................................................................     4
3.3. Metode    ……………………………………………………………     4
3.3 Langkah Kerja    ................................................................................     4
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil    ............................................................................................     5
4.2 Pembahasan    ...............................................................................     5
BAB V KESIMPULAN   
    5.1. Kesimpulan    ………………………………………………………..     8    5.2. Saran    ………………………………………………………..     8
DAFTAR PUSTAKA




BAB I
PENDAHULUAN

1.1.    Latar Belakang
Tanah merupakan kumpulan benda alam di permukaan bumi yang tersusun oleh lapisan-lapisan, terdiri dari campuran bahan mineral, bahan organik, air dan udara, dan merupakan media tumbuh serta berkembangnya tanaman. Selain itu, tanah adalah faktor utama/ hal yang sangat penting dalam dunia pertanian, sehingga tanah menjadi keperluan pokok dalam dunia pertanian. Pada saat ini ekspansi lahan secara besar – besaran untuk perkebunan, seperti halnya perkebunan kelapa sawit terus mengalami peningkatan luasan lahan setiap tahunnya, dan tentunya ini berpengaruh positif terhadap sektor produksi pertanian di Indonesia. Akan tetapi kegiatan ini tidak selalu berdampak positif, seperti semakin berkurangnya kawasan hutan dan penurunan kualitas tanah, serta semakin rusaknya kondisi tanah.
Kerusakan tanah biasanya disebabkan oleh beberapa faktor, seperti : kehilangan unsur hara dan bahan organik, salinisasi, waterlogging dan erosi. Dari beberapa penyebab kerusakan tersebut, erosi merupakan faktor paling besar dalam kerusakan tanah, karena erosi dapat mengangkut material tanah dalam jumlah yang banyak sehingga tanah berkurang kualitasnya.
Erosi merupakan Proses terlepasnya butiran tanah dari induknya disuatu tempat dan terangkutnya material tersebut oleh gerakan air atau angin. Erosi terbagi menjadi beberapa bentuk, seperi erosi alur, erosi selokan, erosi percikan, dan lain-lain.
Dalam kesempatan ini penulis akan melakukan percobaan pengukuran erosi percikan (splash erotion) pada lahan datar di bawah pohon agar dapat mengetahui berapa banyak material tanah yang terangkut atau hilang pada saat terjadi.



1.2.    Tujuan
Tujuan dilakukannya percobaan pengukuran erosi percikan (splash erotion) adalah untuk mengetahui jumlah/banyaknya material tanah yang terangkut atau hilang pada saat terjadi hujan yang langsung jatuh ke permukaan tanah datar di bawah pohon.

1.3.    Manfaat
    manfaat dilakukannya percobaan pengukuran erosi percikan (splash erotion) adalah agar mahasiswa mengetahui partikel tanah yang hilang pada saat terjadi hujan dan diharapkan laporan ini mampu menambah pengetahuan dan wawasan para pembaca atau mahasiswa.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Erosi
Erosi adalah peristiwa pengikisan padatan (sedimen, tanah, batuan, dan partikel lainnya) akibat transportasi angin, air atau es, karakteristik hujan, creep pada tanah dan material lain di bawah pengaruh gravitasi.
Erosi tidak sama dengan pelapukan akibat cuaca, yang mana merupakan proses penghancuran mineral batuan dengan proses kimiawi maupun fisik, atau gabungan keduanya. Erosi sebenarnya merupakan proses alami yang mudah dikenali, namun di kebanyakan tempat kejadian ini diperparah oleh aktivitas manusia dalam tata guna lahan yang buruk, penggundulan hutan, kegiatan pertambangan, perkebunan dan perladangan, kegiatan konstruksi/ pembangunan yang tidak tertata dengan baik dan pembangunan jalan. Tanah yang digunakan untuk menghasilkan tanaman pertanian biasanya mengalami erosi yang jauh lebih besar dari tanah dengan vegetasi alaminya. Alih fungsi hutan menjadi ladang pertanian meningkatkan erosi, karena struktur akar tanaman hutan yang kuat mengikat tanah digantikan dengan struktur akar tanaman pertanian yang lebih lemah. Bagaimanapun, praktik tata guna lahan yang maju dapat membatasi erosi, menggunakan teknik semisal terrace-building, praktik konservasi ladang dan penanaman pohon.
2.2  Bentuk - Bentuk Erosi
Berdasarkan bentuknya erosi dapat dibedakan menjadi :
a.    Pelarutan
Tanah kapur mudah dilarutkan air sehingga di daerah kapur sering di temukan sungai-sungai di bawah tanah.
b.    Erosi percikan (Splash Erosion)
Cura hujan yang jatuh langsung ke tanah dapat melempar butr-butir tanah sampai setinggi 1 meter keudara. Didaerah yang berlereng, tanah yang terlempar tersebut umumnya jatuh ke lereng dibawahnya.
c.    Erosi Lembar (Sheet Erosion)
Pemindahan tanah terjadi lembar demi lembar (lapis demi lapis) mulai dari lapisan yang paling atas. Erosi sepintas lalu tidak terlihat, karena kehilangan lapisan-lapisan tanah seragam, tetapi dapat berbahaya karena pada suatu saat seluruh top soil akan habis.
d.    Erosi Alur (Rill ERosion)
Dimulai dengan genangan-genangan kecil setempat-setempat di satu lereng, maka bila air dalam genangan tersebut mengalir, terbentuklah alur-alur bekas aliran tersebut. Alur-alur tersebut mudah dihilangkan dengan pengolahan tanah biasa.
e.    Erosi Selokan (Gully Erosion)
Erosi ini merupakan lanjutan dari erosi alur tersebut. Karena alur yang terus-menerus digerus oleh aliran-aliran air terutama daerah-daerah yang banyak hujan, maka alur-alur tersebut menjadi dalam dan lebar dengan aliran yang lebih kuat. Alur-alur tersebut tidak dapat hilang dengan pengolahan tanah biasa.
f.    Erosi Internal
Erosi yang disebabkan oleh gaya yang bekerja dari dalam bumi.
g.    Erosi Pantai
Erosi pada dinding pantai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut.
h.    Erosi Parit (Channel Erosion)
Arit-parit yang besar sering masih terus mangalir lama setelah hujan berhenti. Aliran air dalam parit ini dapat mengikis dasar parit atau dinding (tebing) parit dibawah permukaan air, sehingga tebing diatasnya dapat runtuh ke dasar parit. Adanya gejala Neader dari suatu aliran dapat meningkatan pengikisan tebing di tempat-tempat tertentu (Beasley, 1972).
Erosi juga dapat mneyebabkan longsor. Tanah longsor terjadi karena gaya grafitasi . pada umumnya, karena di bagian bawa tanah terdapat lapisan yang licin dan kedap air (sukar di tembus air) seperti batuan liat. Pada saat musim hujan, tanah di atasnya menjadi jenuh air sehingga berat dan bergeser ke bawah melalui lapisan yang licintersebut sebagai tanah longsor.
2.3. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Erosi
1.  Curah hujan
Intensitas hujan dapat mepengaruhi erosi. Semakin deras hujan, maka semakin besar erosi yang ditimbulkan. Selain itu curah hujan yang jatuh di permukaan tanah yang kekuatnnya sangat besar untuk memecahkan gumpalan-gumpalan tanah. Penghancuran gumpalan tanah tersebut selain memudahkan pengangkutan partikel-partikel tanah ketempat lain, partikel-partikel tanah menjadi halus dan dapat enutupi pori-pori tanah sehingga menyebabkan peresapan air kedalam tanah menjadi terhambat. Akibatnya, aliran permukaan (run off) menjadi lebih besar sehingga kemungkinan terjadinya erosi juga meningkat.
2.  Sifat-sifat tanah.
Sifat-sifat tanah yang mempengaruhi kepekaan tanah terhadap erosi adalah tekstur tanah, sruktur tanah, daya infiltrasi/ permeabilitas tanah, dan kandungan bahan organik.
3.  Topografi
    Erosi akan meningkat apabila lereng semakin curam atau semakin panjang.
4.  Vegetasi
Vegetasi mempunyai pengaruh terhadap erosi, seperti menghalangi air hujan agar tidak langsung jatuh ke permukaan tanah, menghambat aliran permukaan dan memperbanyak air infiltrasi, serta penyerapan air dalam tanah diperkuat oleh transpirasi (penguapan air) melalui vegetasi.
5.  Manusia
Tindakan manusia sering kali berdampak buruk terhadap lingkungan yaitu menyebabkan erosi dipercepat. Contoh penggundulan hutan di daerah pegunungan menyebabkan erosi dan banjir.

BAB III
METODOLOGI


3.1  Waktu dan Tempat
•    Waktu pelaksanaan percobaan ini dilaksanakan pada tanggal 5 November 2012.
•    Adapun pelaksanaan percobaan bertempat di Lingkungan sekitar kampus Politeknik Citra Widya Edukasi.

3.2  Tabel Alat dan Bahan
No    Alat    Bahan
1    Alat tulis    Botol Aqua 600 ml & 1500 ml
2    Pisau cuter   
3    Cangkul   
4    Oven   
5    Timbangan Analitik   
6    Gelas Kimia   
7    Kamera Hp 5MP   


3.3  Metode
Metode praktik percobaan pengukuran Erosi Percikan (Splash Erotion) yang digunakan adalah menggunakan studi Lapangan dan Analisa Deskriptif.

3.4  Langkah Kerja
•    Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
•    Menentukan areal yang diuji, yaitu pada areal datar di bawah pohon.
•    Menanam jebakan (menggali lubang dan membenamkan botol aqua ukuran 600 ml dan 1500 ml, serta jarak antara botol adalah 1 meter).
•    Mencatat lamanya waktu hujan ketika melakukan percobaan.
•    Setelah hujan berhenti, maka secepatnya jebakan diangkat.
•    Hasil jebakan (tanah dan air) ditimbang dan dioven pada suhu 105 0C dalam waktu 24 jam.
•    Tanah dan air yang telah dioven, kemudian ditimbang kembali untuk menentukan berat keringnya.





BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil Praktikum
    Berat Partikel tanah pada botol besar  = 69,76 gr
    Berat Partikel tanah pada botol kecil   = 29,83 gr
    

            


            



4.2 Pembahasan
    Proses pelaksanaan percobaan pengukuran besarnya erosi percikan (splash erosion) dilaksanakan pada areal atau lahan datar di bawah pohon, dan tekstur pada lahan tersebut sedikit gembur serta dengan warna tanah merah.
    Percobaan yang dilakukan pada areal datar di bawah pohon menghasilkan selisih endapan atau partikel tanah yang telah dikeringkan adalah sebesar 69,76 gr pada botol aqua dengan lubang permukaan yang berukuran besar dan 29,83 gr pada botol aqua dengan lubang permukaan yang berukuran kecil. Hal ini menunjukan bahwa pada tipe permukaan tanah di bawah pohon butir-butir air hujan tidak langsung jatuh mengenai permukaan tanah sehingga peluang partikel tanah sedikit yang memercik akibat pukulan butir-butir air hujan.
    Selisih beban atau partikel tanah yang masuk ke dalam botol besar (1500 ml) lebih banyak, yakni 69,76 gr, dengan berat sebelum oven 74,56 gr dan sesudah oven 5,20 gr. bila dibandingkan dengan botol kecil (600 ml), yaitu 29,83 gr, dengan berat sebelum oven 31,29 gr dan sesudah oven 1,46 gr. Hasil ini diakibatkan karena luas permukaan botol besar lebih luas daripada luas permukaan botol kecil.
    Dampak yang diakibatkan atau ditimbulkan dari proses erosi percikan sangat berpengaruh besar terhadap areal tersebut, terutama pada kesuburan tanahnya, karena partikel tanah lapisan atas pada areal tersebut terangkat pada saat terjadinya erosi percikan.
    Lama waktu hujan selama 15 menit, jadi waktu hujan sangat berpengaruh terhadap jumlah partikel tanah yang terangkut, karena semakin lama proses terjadinya hujan maka semakin banyak pula partikel tanah yang hilang pada saat terjadinya erosi percikan.
    Intensitas hujan berpengaruh terhadap proses terjadinya erosi percikan karena semakin besar intensitas air hujan atau semakin deras hujan itu berlangsung maka semakin banyak pula material atau partikel tanah yang akan terangkut.
    Tekstur tanah pada areal tersebut adalah lempung berpasir sehingga partikel tanah sangat mudah sekali terangkat ketika terjadinya pukulan butir-butir hujan yang langsung mengenai permukaan tanah.
    Proses terjadinya erosi percikan (splash erotion) ini berpengaruh terhadap laju aliran air permukaan (runoff), karena areal yang dilakukan percobaan pengukuran erosi percikan adalah areal tanah datar di bawah pohon. Hal ini diduga juga berpengaruh terhadap hasil yang diperoleh, karena selain partikel tanah yang memercik terdapat pula partikel tanah yang terbawa aliran permukaan atau runoff yang besar ketika terjadi hujan di sekitarnya yang menahan laju aliran permukaan tersebut.
    Table data kelompok dari masing-masing hasil pengamatan.
Kelompok    Selisih Partikel tanah pada botol berukuran 1500 ml (gr)    Selisih Partikel tanah pada botol berukuran 600 ml (gr)    keterangan
1    69,76    29,83    Di bawah pohon datar
2    44    25,0    Rerumputan datar
Deskripsi lokasi           
3    85,8    56,1    Di dataran kosong
Deskripsi lokasi           
4    37,9    18,02    Di dataran miring
Deskripsi lokasi           
5    11,9    7,9    Miring berumput
Deskripsi lokasi           
6    14,58    31,38    Di bawah pohon dataran miring
Deskripsi lokasi           
7            Semak Datar
Deskripsi lokas           
8           
Deskripsi lokasi           
9    37,9    4,1    Semak-semak datar
Deskripsi lokasi           





BAB V
PENUTUP

5.1  Kesimpulan
Dari proses percobaan yang dilaksanakan maka kami dapat menyimpulkan bahwa :
    Luas permukaan botol besar lebih banyak partikel tanah yang masuk bila dibandingkan dengan luas permukaan botol kecil.
    Selisih partikel tanah yang masuk ke dalam botol besar lebih banyak daripada botol kecil, yaitu botol besar 69,76 gr dan botol kecil 29,83 gr.
    Hal-hal yang berpengaruh besar terhadap besarnya beban yang dihasilkan dari proses erosi percikan adalah tekstur tanah, tipe permukaan tanah, waktu hujan, dan intensitas hujan.

5.2  Saran
Adapun saran yang dapat kami sampaikan adalah melakukan tindakan konservasi lahan pada areal-areal lahan kosong, karena apabila tidak secepatnya dilakukan tindakan konservasi seperti menanami vegetasi di atasnya, maka kondisi tanah pada areal tersebut akan semakin rusak.







DAFTAR PUSTAKA




http://marskrip.blogspot.com/2009/12/erosi.html diakses 5 November 2012
http://id.wikipedia.org/wiki/Erosi diakses 5 November 2012
http://soilerosion.net/doc/water_erosion.html diakses 5 November 2012
http://www.google.co.id/tanya/thread?tid=14c3e75a5686 diakses 5 November 2012
(Beasley, 1972), Channel Erosion.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar